Wednesday, July 29, 2015
Update sementara kinerja bursa saham Indonesia Q2 2015 (6Bulan)
-Data diambil langsung dari laporan keuangan yang dirilis melalui idx.
-Untuk operating profit saya sesuaikan dengan standard saya, saya tidak memasukan seperti biaya / pendapatan lain lain.
-OPM adalah Operating profit margin ( operating profit dibagi revenue)
-NPM adalah Net profit margin ( net profit dibagi revenue)
-PBV dan PER diambil berdasarkan harga penutupan
- Kurs yang dipakai adalah kurs tengah Bank Indonesia 13.332 pada tanggal 30 Juni 2015. Kurs BI
- Sektor Banking saya pisahkan di post lainnya
Sunday, July 12, 2015
Kinerja Investasi Pribadi update 30 Juni 2015
Kinerja Investasi Pribadi untuk 6 bulan ini masih tidak memuaskan, dan masih dibawah kinerja dari fund fund reksadana. Tetapi untuk Q2 2015 (3bulan) cukup berhasil memperbaiki kinerja dibanding fund lain karena dari strategi menjual saham dan memegang kas.
Penurunan kinerja dari dana kelolaan saya kebanyakan karena banyaknya saham komoditas dari dana kelolaan dan turunnya harga saham GJTL dan ERAA yang hampir turun 50% dari pembelian saya. Saya mungkin terlalu optimis dari sektor batubara melihat dari sudah tertekan sekali harga batubara. Dapat dilihat dari banyaknya perusahaan batubara mengoptimalkan cadangan batubaranya dan menurunkan stripping costnya. Hingga PT Harum Energi sampai menghentikan beberapa tambang batubaranya, walaupun perusahaan batubara lainnya masih dapat mengefisiensikan operasinya. Saya memegang PTRO dan ITMG dalam dana cukup besar. Saya masih cukup optimis dengan saham saham pilihan saya. Untuk GJTL dan ERAA sebenarnya merupakan kesalahan saya karena kurang mengeksploitasi terlebih dahulu sebelum membeli. Pembelian memang berdasarkan analisa dan pembacaan blog blog investasi lainnya. Tetapi ERAA saya mulai menyicil kembali setelah mempertimbangkan dan menganalisa lebih jauh. Untuk GJTL sementara saya hold.
Kesimpulan
Kinerja masih belum bagus dan untuk 3 bulan lalu saya masih mentradingkan beberapa saham banking. Yang akibatnya sangkut di BBNI di harga 6100/saham. Masih memegang kas sebesar 30% dari total dana. Sehingga mau kemanapun indeks saya cukup menikmatinya. Mulai akan menambah kepemilikan di beberapa perusahaan yang saya rasa memiliki competitive advantage.
Penurunan kinerja dari dana kelolaan saya kebanyakan karena banyaknya saham komoditas dari dana kelolaan dan turunnya harga saham GJTL dan ERAA yang hampir turun 50% dari pembelian saya. Saya mungkin terlalu optimis dari sektor batubara melihat dari sudah tertekan sekali harga batubara. Dapat dilihat dari banyaknya perusahaan batubara mengoptimalkan cadangan batubaranya dan menurunkan stripping costnya. Hingga PT Harum Energi sampai menghentikan beberapa tambang batubaranya, walaupun perusahaan batubara lainnya masih dapat mengefisiensikan operasinya. Saya memegang PTRO dan ITMG dalam dana cukup besar. Saya masih cukup optimis dengan saham saham pilihan saya. Untuk GJTL dan ERAA sebenarnya merupakan kesalahan saya karena kurang mengeksploitasi terlebih dahulu sebelum membeli. Pembelian memang berdasarkan analisa dan pembacaan blog blog investasi lainnya. Tetapi ERAA saya mulai menyicil kembali setelah mempertimbangkan dan menganalisa lebih jauh. Untuk GJTL sementara saya hold.
Kesimpulan
Kinerja masih belum bagus dan untuk 3 bulan lalu saya masih mentradingkan beberapa saham banking. Yang akibatnya sangkut di BBNI di harga 6100/saham. Masih memegang kas sebesar 30% dari total dana. Sehingga mau kemanapun indeks saya cukup menikmatinya. Mulai akan menambah kepemilikan di beberapa perusahaan yang saya rasa memiliki competitive advantage.
Friday, July 3, 2015
PT Tempo Scan Pacific Tbk, great company with reasonable price
PT Tempo Scan Pacific Tbk
PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) didirikan pada tanggal 20 Mei 1970 dan go public pada 24 Mei 1994. PT Tempo Scan Pacific dijalankan oleh family Kartini Muljadi. Shareholder dari PT Tempo Scan Pacific Tbk adalah PT Bogamulia Nagadi yang memegang 77.34% tercatat pada 2014. Pada 2008 silam PT Bogamulia memiliki 71.85%. Di 2008 July mereka melakukan pembelian saham dari masyarakat hingga kepemilkan menjadi 95% dengan offer Rp 700/ saham yang mencerminkan PBV 1.4x dan PE 9.6x pada saat itu . Setelah tender offer, saham TSPC malahan cenderung turun hingga ke Rp 345 /saham di bulan Desember 2008, pada saat itu hampir semua saham turun signifikan. Pada 2012 PT Bogamulia menjual kembali kepemilikannya di TSPC menjadi 77.29%. ( Perlu dicatat pembelian saham TSPC bukan dibuyback oleh TSPC melainkan oleh induk perusahaan, sehingga keuntungan dari penjualan buyback tidak menguntungkan shareholder TSPC). Penulis menilai cukup aneh, ketika pada tahun 2008 silam, TSPC memegang kas yang cukup besar yaitu 1 Triliun, tetapi TSPC tidak melakukan buyback atas sahamnya walaupun induk perusahaanya melakukan pembelian saham dan sampai sekarang kas perusahaan juga terbilang cukup besar yaitu 36% dari total asset. Dan di tahun 2015 ini juga, PT Bogamulia Nagadi melakukan pembelian saham TSPC sekitar Rp 1900-1990 /saham. Apakah memang betul harga saham sekarang TSPC sudah cukup murah? Sebelum memasuki valuasi ada baiknya kita membahas tentang perusahaan lebih detail lagi. Induk perusahaan dari TSPC yaitu PT Bogamulia Nagadi sebenarnya didirikan pada tahun 1990 oleh Bapak Handojo Selamet Muljadi yang juga sebagai pemegang saham mayoritas di PT Bogamulia Nagadi. Bapak Handojo Selamet Muljadi telah memimpin TSPC sejak 1995 dan dibawah kepemimpinannya, TSPC berhasil secara konsisten meraih pertumbuhan laba dan menjaga kualitas dari struktur assetnya.
Setelah ditinjau tinjau
produk produk farmasi dari TSPC berhasil mendaftarkan 10 dari produknya dalam
program BPJS sehingga menghasilkan sekitar 8% dari penjualan bersih kelompok
Prescription medicinies group (kelompok usaha Obat resep). TSPC memiliki 3
divisi utama, Divisi Farmasi terdiri dari 6 perusahaan, Divisi Produk konsumen
dan kosmetika terdiri 8 perusahaan, dan Divisi Distribusi terdiri dari 6
perusahaan. Beberapa produk yang terkenal dari TSPC adalah Brodrex, Hemaviton,
Neo rheumacyl, neo hormoviton, Marina, Oskadon, Minyak telon,Vidoran smart,
Zevit growth. Produk underlisensi dari TSPC adalah Revlon, Bobbi Brown,
Hilfiger, Aramis, Clinique, MAC, LAMER, ESTEE LAUDER, DKNY.
Pendapatan 2014 TSPC
dari ketiga divisi:
1. Divisi Obat-obatan/
Pharmaceutical
menyumbang 2 Triliun (27.5% dari total pendapatan)
Margin laba kotor dari
divisi Produk Pharmaceutical adalah 64%
2. Divisi Produk konsumen
dan kosmetika menyumbang 1.9
Triliun (25.4% dari total pendaptan)
Margin Laba kotor dari
divisi Produk konsumen dan kosmetika adalah 57.6%
3. Divisi Distributor menyumbang
3.5Triliun (47.1% dari total pendapatan)
Margin laba kotor dari divisi distribusi
14.4%
Analisa Fundamental
Neraca dari TSPC sehat
sepanjang 2014 sebagaimana tercermin dalam posisi kas bersih Rp 1.3Triliun,
jumlah asset Rp 5.6Trilliun dan ekuitas 4.1Trilliun. Rasio dari time interest
earnednya menunjukan 87.9x. Sehubungan dengan kondisi likuiditas, TSPC telah
berhasil mempertahankan modal kerja yang sehat dengan menjaga rasio lancar di
3x, inventory turnovernya 8.9x, dan memperbaiki piutang usaha menjadi 40 hari
dibandingkan dengan 42 hari pada periode yang sama tahun lalu . Tidak adanya hutang jangka panjang. Hutang jangka pendek juga kecil. Sehingga resiko dari perusahaan sebenarnya hampir mendekati nol. Perusahaan tetap harus berinovasi untuk meningkatkan penjualannya.
Poin poin penting untuk
diketahui:
1.Tidak ada defisit dalam
10 tahun terakhir.
2.Pertumbuhan
15 tahun terakhir, CAGR 15.7%. Sedangkan pertumbuhan 5 tahun terakhir ini adalah 10%.
3.Rasio
pengembalian terhadap asset (ROA) 15 tahun rata rata 12%
4.Rasio pengembalian terhadap modal (ROE) 15 tahun rata rata 15.9%
5.Margin
usahanya cukup tinggi. Gross profit margin rata rata 15 tahun 41.6%, Operasi
profit margin rata rata 15 tahun 14.4%, dan Net profit margin rata rata 15
tahun 10.1%
6.Cash flow
Operasinya tetap positif dengan 15 tahun compound annual growth ratenya di 3.8%
Peniliaian harga wajar:
1. Peter lynch PEG, PER 9.7x, pertumbuhan 5 tahun 10%. Maka hasil yang didapat adalah 9.7 / 10% = 1, artinya valuasinya wajar.
2. Valuasi dari Om Benjamin Graham, V=EPS * ( 8.5 + 2G) * (BIrate/AAA)
V= 125 * (8.5 + 2*10)* (7.5/10.5)
V= 2.544
Maka intrinsic value dari TSPC adalah Rp 2544/saham, atau 27% terdiskon. Untuk lebih konservatif maka anda boleh menunggu ketika perusahaan terdiskon 30% dari intrinsic valuenya yaitu Rp 1780/ saham
V= 125 * (8.5 + 2*10)* (7.5/10.5)
V= 2.544
Maka intrinsic value dari TSPC adalah Rp 2544/saham, atau 27% terdiskon. Untuk lebih konservatif maka anda boleh menunggu ketika perusahaan terdiskon 30% dari intrinsic valuenya yaitu Rp 1780/ saham
NB: EPS yang digunakan adalah TTM Q2,3,4 2014 + Q1 2015=73 +52= 125
AAA menggunakan obligasi dari Astra (http://www.ibpa.co.id/DataPasarSuratUtang/BondMaster/ObligasidanSukukKorporasi/tabid/80/language//Default.aspx)
AAA menggunakan obligasi dari Astra (http://www.ibpa.co.id/DataPasarSuratUtang/BondMaster/ObligasidanSukukKorporasi/tabid/80/language//Default.aspx)
Penutupan
Perusahaan
tidak akan mengalami resiko likuiditas dan tidak akan mengalami resiko suku
bunga naik karena struktur asset TSPC kuat dan bagus (hutang berbunganya nyaris
tidak ada).
Penulis menilai perusahaan TSPC cukup bagus kinerjanya
dan sebagai mesin penghasil kas yang bagus. Pada harga Rp 2000 /
saham atau market cap 9 Triliun, maka valuasi yang ditawarkan PE 9.7x dan PBV 2.1x (untuk kinerja Q12015
yang diannualized). Perusahaan tiap tahun membagikan dividen rata-rata 55% dari
laba bersih. Jika pembelian di harga Rp 2000/saham maka dividen yield yang
dapat diharapkan adalah 3.75% . Penulis sendiri mulai menyicil saham ini, ketika harga saham lebih murah lagi maka saya akan meningkatkan porsi kepemilikan.
Investment in your hand.
Referrence:
Monday, June 15, 2015
PT Petrosea Tbk
PT Petrosea didirikan pada tahun
1972 dan pada tahun 1990 Petrosea adalah perusahaan rekayasa kontruksi dan
pertambangan pertama yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. PT Petrosea Tbk
merupakan perusahaan yang menyediakan jasa pertambangan lengkap termasuk solusi
jasa pendukungnya di sektor industry batubara, minyak dan gas bumi di
Indonesia. Petrosea menyediakan jasa pertambangan terpadu pit-to-port maupun
life-of-mine service. PT Indy Energy Tbk merupakan pemegang saham pengendali,
memegang 69.8%, dan Om Lo Kheng Hong memiliki 105 juta lembar saham atau setara
10.4% yang tercatat pada 31 Mei 2015. Om Lo Kheng Hong ini terus membeli saham
PTRO semenjak 2013.
Anak Usaha
Petrosea memiliki beberapa anak
usaha yaitu PTP Investment Pte. Ltd yang
berdomisili di Singapura sampai sekarang masih tidak aktif asset total $832
ribu. PT Petrosea Kalimantan (PTPK) yang
domisili di Balikpapan dan menjalankan bisnis perdagangan dan jasa kontraktor,
asset totalnya $41 ribu. PT POSB Infrastructure Kalimantan yang domisili di
Balikpapan dan menjalankan pengelolaaan pelabuhan khusus yang asset totalnya
$176. Dan 50% kepemilikan di PT Santan Batubara yang saat ini telah
menghentikan tambang batubaranya menunggu harga batubara kembali bangkit untuk mendapatkan hasil yang baik.
Pendapatan dari kontruksi
batubaranya merupakan penyumbang terbesar dari total pendapatan. Pada tahun
2015 untuk kinerja 3bulan pertama, pertambangan menyumbang 75.7%. Seperti anda
ketahui perusahaan merupakan kontraktor batubara, bukan pemilik konsesi
batubara. Sehingga asset dari perusahaan kebanyakan merupakan adalah alat alat
berat yang hampir mencakup 90% dari total asset tetap $470 juta atau
setara Rp 6.2 Triliun, ini jumlah
sebelum penyusutan. Setelah disusutkan maka alat berat tersebut sebesar $252
juta atau setara Rp 3.3Triliun untuk tahun 2015 di bulan Maret. Alat berat disusutkan selama kurang lebih 8 tahun. Dan tentu saja
biaya dari penyusutan akan masuk di laba rugi perusahaan. Sehingga ketika perusahaan kehilangan kontrak, maka
perusahaan juga tetap harus memasukan beban penyusutannya ke dalam biaya
operasi perusahaan. Yang anehnya walaupun dikatakan kontrak, tetapi penulis
tidak menemukan di laporan keuangan adanya keuntungan jika pihak ABN dan Gunung
Bayan mengakhiri kontraknya walaupun kontrak tersebut belum berakhir masanya.
Sehingga perjanjian kontraknya sebenarnya tidak begitu mengikat. Dari laporan
tahunannya pihak management ada beberapa kali mengatakan akan memperbesar
pendapatan dari jasa maupun engineering and
procurementnya. Sampai 2015 Q1 memang ada pertumbuhan tetapi masih saja tidak
sebesar pendapatan dari kontraktor batubaranya. Jika dilihat asset tetapnya
lebih banyak focus ke kontraktor batubaranya
Penulis memiliki data PTRO semenjak
tahun 1999, jika dilihat history perusahaan tidak pernah mengalami defisit
laba, dan tetap royal dalam membagikan dividennya, walaupun laba perusahaan
tidak konsisten. Ketika diakuisisi INDY pada tahun 2009, perusahaan lebih
agresif terlihat dari penambahan jumlah asset tetapnya, gross margin profit
maupun net profit marginnya juga cukup bagus, penulis menyediakan table margin
usahanya. Tetapi INDY meminjamkan dana ke PTRO dengan bunga yang cukup tinggi,
pada tahun 2010 INDY menyediakan fasilitas $ 140 juta yang tanggal jatuh tempoh
5 november dengan bunga 9.85%. Perusahaan PTRO menggunakan $110 juta pada
desember 2012 dan melakukan pelunasan pada 5 november 2013, dan mengantikan dengan
pinjaman dari INDY juga tetapi dengan bunga lebih renda 7.165%. ( INDY
menurunkan biaya pinjamanan tersebut) Pinjaman tersebut digunakan untuk
mengantikan dana leasing dari pihak ketiga, yang sampai pada tahun 2015 maret
ini masih ada sisa pinjaman leasing sebesar $27 juta. Tapi sebenarnya pinjaman
dari pihak leasing lebih murah dibandingkan pihak dari INDY. Ini salah satu
poin yang tidak disukai penulis, walaupun INDY sebagai parent company
memberikan proyek Kideco kepada PTRO ( Dari Tambang Kideco bukan hanya PTRO
saja menjadi kontraktor batubara, sehingga adanya peluang PTRO mendapatkan
proyek Kideco yang lebih besar). Di 3 bulan 2015 ini Kideco berkontribusi 27%
dari total pendapatan, sementara penulis sih masih menutup mata untuk dana
pinjaman tersebut karena beberapa company juga mendapatkan dana berdominasi
dollar yang berbunga sekitar 7%an juga. Yang penting perusahaan dapat mengcover
biaya pinjaman tersebut.
Struktur dan kekuatan keuangan:
1. Asset lancar setidaknya 2 x dari hutang lancar: Tidak terpenuhi, rata rata 5 tahun perusahaan hanya 1.3x.
2. Hutang jangka panjang tidak lebih dari asset lancar: Terpenuhi, rata rata 5 tahun 1.1x
3. Hutang berbunga sebaiknya tidak 2 x dari ekuitas: Terpenuhi, rata rata 5 tahun 0.98x, jika net debt equity maka rata rata 5 tahun menjadi 0.75x
4. Time interest rationya sebaiknya 5x : Tidak terpenuhi, tetapi rata rata 5 tahun menunjukan 6.67x
Perilaku Management
Perusahaan royal dalam membagi dividennya.
Kesimpulan
Baiklah Petrosea bukanlah sebuah perusahaan yang bagus bagus amat, tapi melihat dari valuasinya cukup menarik. Maka strategi yang tepat untuk membeli PTRO adalah strategi dari Mr Benjamin Graham, buying a cigar butt. Ekuitas perusahaan sebesar $192 juta atau sekitar Rp 2.5 Trilliun. dan anda hanya membelinya sekitar Rp 550 miliar jika harga sahamnya Rp 550 / saham. Ekuitas sebesar $ 192 juta berasal dari saldo laba yang sebesar $ 160 juta.
Jika perusahaan dilikuidasi:
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Target beli $48.813.000 atau setara Rp 634milyar ini dengan
catatan asset tetapnya dapat dijual 40% dari harga pembeliannya. Penulis
sendiri tidak punya pengalaman ataupun info apakah alat berat memiliki second
price yang bagus. Penulis dapat menemukan harga alat berat bekas, tetapi tidak
dapat menemukan berapa harga baru dari alat berat tersebut, sehingga
tidak dapatnya berapa penurunan dari harga alat berat tersebut. Untuk lebih konservatif maka tetapkan 25%. Sepanjang tahun 2009 -2014 PTRO lebih condong untuk menambah posisi alat beratnya ketimbang menjualnya, sehingga penulis cukup sulit untuk menentukan persentase second price dari alat berat tersebut.
Diatas sudah dijelasin bahwa biaya penyusutan dari aset tetap terus berjalan walaupun kontrak hilang. Sehingga sebaiknya kita menentukan variable cost dan fixed cost, agar kita lebih paham.
(dalam ribuan USD)
Fixed cost: Penyusutan +Salaries and wages+ Rental plant, vehicle+sub kontraktor+sistem informasi management + Total beban administrasi+ interest expense=$ 41.548 Variable cost = $25.264 Maka perusahaan setidaknya memiliki omzet satu tahun $166.192 ($41.548 *4 quater) untuk menutupi fixed costnya. Jika tidak, maka equity akan digrogoti habis. Tulisan ini tidak ada maksud untuk merekomendasikan beli atau jual saham perusahaan. Keputusan investasi ada di tangan masing masing. Penulis memiliki posisi investasi di perusahaan ini. Investment in your hand. |
Wednesday, May 20, 2015
PT Indah Kiat Tbk (INKP)
PT Indah Kiat Tbk (INKP)
siapa yang tidak kenal perusahaan ini, produknya tiap hari kita gunakan dari
tissue, kertas, dan karton box. Penjualan pulp (bubur kertas) berkontribusi 38%
terhadap penjualan, sedangkan kertas 29% dan packaging dan yg lainnya berkontribusi
33%. Perusahaan merupakan salah satu perusahaan kertas terbesar di dunia.
Perusahaan berdiri sejak 1967 dan go public semenjak tahun 1990 Jika anda
melihat valuasinya maka anda akan tercengang di harga Rp 1100 hanya Price
earning rationya (PER) hanya 1.9x dan Price to book valuenya hanya 0.2x. Yang
artinya perusahaan hanya dihargai 6 Trilliun, dan modal yang tercatat 30
Triliun. Penulis sendiri ragu untuk membeli perusahaan ini. Anda pasti bertanya
tanya mengapa? bukannya ini adalah perusahaan yang dikenal secara luas dengan
valuasi super murah. Baiklah penulis akan mencoba mengulasnya.
Total Hutang yang
berbunga tercatat USD 3.8 Milyar atau setara Rp 47 Triliun, yang terdiri
dari hutang jangka pendek, hutang bank jangka panjang dan wessel bayar ( notes
payable) yang dominan dalam dollar Amerika. Penulis sendiri tidak begitu mengerti
tentang wessel bayar. Tapi logika saya cukup simpel saya ambil saja total
hutang berbunganya USD 3.8 milyar saya kalikan dengan bunga pinjaman 5.3%
(menurut saya bunga 5.3% itu sudah cukup murah dan sulit untuk mendapatkannya),
maka bunga yang layak perusahaan bayar adalah sekitar USD 200 juta, di tahun
2014 perusahaan membayarkan USD 114 juta. Penulis tidak mengatakan perusahaan
memanipulasi, tapi ada kejanggalan mungkin saja wessel bayar (notes payable)
mendapatkan isentif. Dan laba operasi di tahun 2014 sendiri USD 192 juta. Yang
artinya jika memakai hitungan saya, maka perusahaan akan mengalami kerugian
akibat hutang yg menggunung. Dan perusahaan semenjak tahun 2000 tidak pernah
membayar pajak sesuai, malahan mendapatkan benefit dari pajak tersebut akibat dari
kerugian kerugian perusahaan.Saldo laba mulai positif di tahun 2013, yang
artinya perusahaan sejak tahun 2000-2012 tidak kemana kemana, hanya berjuang
untuk bertahan. Dan hanya membagikan dividen di tahun 2013. Penulis menilai pembagian dividen itu kurang tepat, seharusnya dilunasi dulu hutang hutang yang dapat dilunasi. Tapi bukan berarti
perusahaan tidak berusaha untuk memperbaikinya, Untuk kinerja di Q1 2015,
perusahaan cukup berhasil penjualan maupun laba bersih, tapi untuk pembayaran
pajak masih saja belum dibayar sewajarnya. Jadi anda perlu mendiskonkan laba
bersihnya agar sewaktu perusahaan sudah membayar pajak sewajarnya anda tidak
terkejut akibat gejolak lababersih. Karena pajak korperasi kita cukup tinggi
sekitar 25%. Perusahaan dipimpin oleh Presiden Direktur Lan Cheng Ting sejak
tahun 2012 yang mengantikan Mr Yudi Setiawan. Untuk laporan direktur terhadap
pemegang saham saya rasa terlalu singkat, jujur saja saya tidak dapat informasi yang lengkap apa yang
mau dikerjakan dan apa tantangan kedepan perusahaan. Seperti anda ketahui
perusahaan sudah cukup mature (artinya produk produknya dapat kita temukan
dengan mudah). Penulis menilai perusahaan kurang mengefisiensikan dari mesin.
Setelah dipresiasikan Asset mesin neto USD 3.2 Juta , berbanding dengan
salesnya hanya USD 2.6juta. Jika memakai rasio maka turnover assetnya rata rata
6 tahun hanya 0.4x saja. Ditambah lagi turnover inventory hanya 3.5x dan
turnvoer piutang usaha 9.4x yang tidak memuaskan. Apalagi margin dari usaha nya
cukup kecil. Semenjak tahun 2012 hingga sekarang perusahaan telah meningkatkan
efiensinya, tetapi masih saja penulis menilai masih kurang bagus. Baiklah mari kita bahas tentang valuasi perusahaan tersebut. Perusahaan sekarang dihargai 6 Triliun dan modal kerjanya (asset lancar - hutang lancar) sebesar USD 457juta (Rp5.6Triliun). Untuk laba bersih perusahaan, saya merekomendasikan untuk melihat 1 - 2 tahun lagi apakah perusahaan dapat dengan konsisten meraih lababersihnya, karena seperti anda ketahui perusahaan masih menikmati pajaknya akibat kerugian perusahaan masa lalu.
Jadi kesimpulan dari
riset ini adalah, perusahaan memiliki produk yang tiap hari digunakan, tetapi
tidak memiliki efisiensi yang bagus dalam mengelolanya. Penulis berharap
perusahaan dapat lebih memaksimalkan efisiensi dengan penjualan melebih aset
yang dimiliki, mungkin dengan inovasi inovasi pada produknya. Penulis sendiri
tidak dapat menemukan seberapa efisiennya mesin dari perusahaan, apakah mesin
digunakan sebaik baiknya atau mesinnya banyak yang nganggur dan rusak. Untuk
kualitas asset penulis menilai sungguh buruk, akibat dari asset tetap yang
mendominasi dari total asset dan hutangnya itu rumit ( tapi tidak serumit dari PT
Bumi resource). Perlu digaris bawahi bahwa anda sebelum membeli perusahaan ini, anda perlu meriset lagi tentang hutangnya, terutama notespayable yang memiliki tranche A, tranche B, tranche C. Maka investasi itu tidak semudah hanya melihat PBV dan PER yang
murah. Anda harus melihat kualitas dari asset dan kualitas laba.
Investment in your hand
Monday, May 18, 2015
PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA)
PT
Erajaya Swasembada Tbk merupakan perusahaan distributor dan retail handset
terbesar di Indonesia yang market sharenya sekitar 30% . Berdiri pada tahun 1996, di tahun 2011
Agustus meningkatkan modalnya menjadi 500 miliar sebelum go public dan pada Desember 2011 perusahaan go public yang membuat modalnya menjadi 1.45 triliun. Dana
bersih setelah dikurangi biaya IPO sebesar 875.35 miliar sebagian besar digunakan untuk pelunasan promissory
notesnya. Sebelum IPO perusahaan juga mengakuisisi PT Teletama Artha Mandiri
(TAM) yang juga sebagai distribusi dan retail handset. Atas Akuisisi tersebut
ERAA mengantongi goodwill sebesar 500milliar di kolom assetnya. Menurut penulis
akuisisi tersebut terbilang cukup fantastis untuk perusahaan ERAA pada saat
itu, Asset yang tercatat di 2010 adalah
sebesar 1.2 Triliun (sebelum tambahan dana IPO dan tambahan modal) dan
mengakuisisi TAM yang assetnya 1.5Triliun. Tapi setelah berjalannya waktu, ERAA
membuktikan akuisisi tersebut adalah pilihan yang tepat, Asset yang tercatat
untuk anak usahanya TAM di 2014 adalah sebesar 2.9 Triliun atau meningkat hampir 2x
dalam 3 tahun. Dan ERAA rajin
mengakuisisi perusahaan perusahaan yang sejenis, seperti axioo baru saja
diakuisisi, CG Computer Sdn Bhd. Yang menurut penulis itu kurang bagus,
walaupun akuisisi tersebut tidak mengrogoti kas perusahaan yang banyak.
Terus bagaimana
untuk kualitas asset ERAA, seperti yang
anda ketahui ERAA membuka toko ritel nya dengan menyewa dari pihak Mall dan
pusat perbelanjaan lainnya. Ada juga yang berbentuk joint venture ataupun
kerjasama dengan pihak pihak seperti carefour dan lainnya. Walaupun modal kerja
(asset lancar dikurangi hutang lancar) itu bagus dan positif 1.4 Triliun di
2014, tidak membuktikan bahwa perusahaan cukup liquid. Dari data kita dapat
melihat cashflow operasinya itu tidak stabil terkadang positif terkadang minus
yang artinya perusahaan cukup sulit untuk mengenerate kas. Dan hal ini juga terjadi di perusahaan kompetitornya. Jika kas operasi saja sudah minus, tidak mungkin dong perusahaan membagi dividen, karena perusahaan aja sudah kesulitan untuk menutupi kas operasi minus dengan hutang hutang jangka pendek yang berbunga. Hutang jangka panjang ERAA cukup kecil, tapi hutang
jangka pendeknya cukup besar untuk membiayai inventorinya dan memiliki time
interest earned rationya yang kurang bagus hanya 2.2x. Untuk inventory turnover
cukup bagus antara 7x – 10x.
Margin operasi yang didapat tidak begitu menarik jika
dibandingkan pesaingnya TELE, TRIO,GLOB. Mungkin akibat banyaknya titik distribusi yang kurang efisien dan toko toko ritel yang tidak menghasilkan. Anda dapat membaca laporan tahunannya 2014, CEOnya mulai mengefisiensikan dari toko toko dan titik distribusinya. Walaupun di 2012,2013, sendiri perusahaan cukup aktif dalam expandnya. (TELE baru memulai serius bisnis
distribusi handsetnya, yang hanya kontribusi 37% terhadap total salesnya, GLOB merupakan anak usaha dari TRIO )
Valuasi yang ditawarkan Mr Market pada saat ini ERAA pada posisi di Rp 800/saham senilai 2.3Triliun. Dan anda sebagai pemilik perusahaan mendapatkan laba 330 milyar pertahunnya (rata rata 3 tahun untuk menetralkan laba bersih akibat dari penurunan atau kenaikan kinerja sementara). Atau Return on investment anda adalah 14%. Jika harga yang ditawarkan seharga modal kerjanya, maka penulis akan memborongnya atau sekitar 1.4 T (Rp 500/saham). Sampai sekarang penulis hanya wait and see karena adanya barang atas akibat salah menganalisa dan melihat kinerja dari Q1 2015 menunjukan pertumbuhan yang signifikan di Sales, tetapi tidak diikuti dengan laba operasi maupun lababersih, kemungkinan akibat dari kurs ataupun diskon yang diberikan perusahaan ke customer untuk membuang stok lama.
Penulis mengakui kesalahan analisanya yang dulu, akibat terlalu simpelnya analisa saya. Saya hanya mengambil kinerja 5 tahun lalu untuk memproyeksikan kinerja 5 tahun mendatang dan mendiskonkan 50% harga saham tersebut untuk mendapatkan margin of safety, hitungan saya kemarin adalah perusahaan tumbuh 45% dan mendapatkan present value yang setelah didiskon seharga Rp 1.370 /saham, dan merasa senang karena dapat membeli hanya seharga 1090. Ketika itu penulis tidak tahu menahu tentang kualitas dari asset tesebut. Karena seperti yang dijelasi diatas bahwa kinerja yang kinclong dari tahun 2011 merupakan hasil dari akuisisi.
Pelajarannya yang saya dapat adalah ketika membeli perusahaan yang baru baru IPO (kurang dari 5 tahun), penulis harus melihat lebih seksama, dan tidak boleh menggunakan data lama sebagai proyeksi mendatang. (karena kita tidak mengetahui apa saja yang dilakukan perusahaan sebelum IPO). Melainkan lebih fokus ke kualitas asset tersebut. Dan valuasi berapa yang ditawar di market.
Pelajaran lain yang penting adalah pilihlah perusahaan perusahaan yang dapat mengenerate cashflow operasi yang besar dan stabil.
Jika perusahaan tidak membagi dividen pastikan pertumbuhan dari sales, netincome maupun ekuitas bertumbuh lebih tinggi ketimbang kita menginvestasikan ke perusahaan lain.
Penulis berusaha untuk menulis lebih singkat dan padat agar pembaca mendapatkan intisari dan menelusuri sendiri perusahaan agar kita dapat membahasnya bersama-sama.
Penulis cukup senang jika anda dapat memberikan komentar komentar tajam dengan bahasa sopan.
Investment in your hand.
Subscribe to:
Posts (Atom)















